Collectibles & Memorabilia

Exclusive items and rare finds from the industrial era.

Archive News Photographs

"TRACS of TIME: NEWS, HISTORY, FACTS, & LENS." "Every collapsing second is a new history. We are here not merely to witness, but to immortalize. Through the sharpness of facts, the depth of history, the power of photos, and the ultimate truth, we piece together the fragments of events often left behind by the pace of time."

CAPTURING THE SOUL of THE TRICYCLE

CAPTURING THE SOUL of THE TRICYCLE

Capturing the Soul of the Tricycle: A Discourse on Aesthetics between Robert and Ananta
Standing gracefully amidst a vast stretch of green lawn, an antique tricycle showcases its classic iron curves, rich with history. To the untrained eye, it might appear as merely a worn-out vehicle from days gone by. However, for Robert and Ananta, this structure is a visual masterpiece harboring extraordinary aesthetic potential.

Standing side-by-side near the tricycle, Robert points out something on his device screen to Ananta. With great enthusiasm, Robert shares his perspective on specialized photographic sharpness techniques tailored for objects like this vintage bicycle.

"A bicycle possesses a highly artistic anatomy," Robert explains, gesturing toward the intricate details of the curved iron frame. "The lines of the chassis, the symmetrical wheel spokes, down to the texture of the patina and rust-these define its core character. Therefore, lens sharpness must be precisely locked onto the element that carries the main narrative, whether it is the weathered texture of the leather saddle or the mechanical details of the chain."

Furthermore, Robert emphasizes the critical importance of selecting the right angle. Because the form of a tricycle is intrinsically complex and three-dimensional-distinct from a conventional two-wheeled bicycle-standard angles often fail to capture its beauty in its entirety.

Ananta listens intently, nodding in agreement. As someone deeply immersed in aesthetics, he understands perfectly that the right angle breathes life and adds a new dimension to a photograph. A low angle, for instance, can evoke a sense of grandeur and highlight the robust structure of the vintage iron, while a diagonal angle can accentuate the dynamic, unique positioning of its wheels.

This moment of knowledge-sharing between brothers (sedulur) transcends a mere technical discussion about cameras. It is a harmonious intersection of feeling and visual logic, where photographic sharpness is employed not just to record an image, but to curate and celebrate the artistic value of an industrial object that has withstood the test of time.

ONG HARI WAHYU & JOGJA REPUBLIK ONTHEL

ONG HARI WAHYU & JOGJA REPUBLIK ONTHEL

MENOLAK LUPA SEJARAH: ONG HARI WAHYU ADALAH PENGGAGAS TUNGGAL DAN AKAR IDEOLOGIS LAHIRNYA JOGJA REPUBLIK ONTHEL
YOGYAKARTA, MUJI TRICYCLE
Akhir-akhir ini mencuat klaim sepihak dari kelompok tertentu yang menyatakan diri sebagai pembuat utama sekaligus menduduki posisi "presiden" dari perhelatan akbar lintas komunitas sepeda tua, Jogja Republik Onthel (JRO), Indonesia. Guna meluruskan distorsi sejarah dan menjaga otentisitas pergerakan kebudayaan di tanah Mataram, fakta historis yang valid wajib ditegakkan kembali. Catatan arsip dan kesaksian kebudayaan menegaskan bahwa pencetus ide, konseptor awal, sekaligus sosok yang melahirkan nama "Jogja Republik Onthel" tidak lain dan tidak bukan adalah Ong Hari Wahyu.

Beliau merupakan seorang seniman kontemporer, desainer grafis senior, sekaligus budayawan legendaris yang berbasis dan menetap di Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Reputasi Ong Hari Wahyu dalam mengaktivasi ruang publik berbasis kebudayaan rakyat sudah tidak diragukan lagi, salah satunya dikenal luas oleh publik Indonesia sebagai inisiator utama dari perhelatan legendaris tahunan, Pasar Kangen di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Semangat kerakyatan inilah yang kemudian ia manifestasikan ke dalam sebuah gerakan berbasis komunitas sepeda tua.

Akar Ideologi JRO: Kesetaraan dan Kemerdekaan di Jalan Raya
Lahirnya Jogja Republik Onthel bukanlah sebuah kebetulan komersial atau sekadar ajang kumpul-kumpul rekreasi tanpa arah. Ong Hari Wahyu menyusun konsep JRO dengan landasan filosofis dan pesan mendalam yang sangat radikal. Ia memandang jalan raya telah menjadi ruang yang angkuh, didominasi oleh arogansi kecepatan kendaraan bermotor yang kerap meminggirkan para pesepeda lambat.

Melalui penamaan "Republik", Ong Hari Wahyu ingin mengirimkan pesan makro yang sangat kuat tentang kesetaraan. Di jalan raya, seluruh pengguna kendaraan-baik itu sepeda onthel tua yang lambat, sepeda motor, maupun mobil mewah-memiliki hak yang sama, derajat yang setara, dan ruang hidup yang merdeka. Tidak ada kelas sosial yang lebih tinggi atau berhak mengusir yang lain. Jalan raya adalah ruang publik yang demokratis.

Gagasan inklusif inilah yang kemudian menggerakkan hati ribuan onthelist (pecinta sepeda tua) dari berbagai pelosok Nusantara untuk datang merapat ke Yogyakarta. Nama "Republik" dipilih justru untuk meruntuhkan sekat-sekat feodalisme kelompok, menegaskan bahwa gerakan ini adalah milik kolektif masyarakat bersepeda, yang disatukan oleh kepedulian moral terhadap lingkungan, warisan sejarah, dan kemanusiaan.

Struktur Makro: Penasihat dan Eksekutor Lapangan
Dalam rekam jejak kepanitiaan makro, Ong Hari Wahyu memilih untuk bertindak di balik layar sebagai Penasihat JRO. Pilihan posisi ini sengaja diambil mencerminkan sifat kebapakan dan kerendahan hati seorang ideolog. Sementara itu, urusan teknis lapangan, manajemen logistik, dan kepengurusan organisasi taktis dijalankan secara kolektif bersama rekan-rekan dari berbagai komunitas sepeda tua di Yogyakarta secara gotong royong.

Oleh karena itu, fakta empiris ini membantah keras klaim-klaim individualistis atau kelompok lain yang secara sepihak mengaku-ngaku menciptakan event ini dari nol. Apalagi jika ada figur yang mengeklaim diri sebagai "presiden" mutlak pembuat acara tanpa merujuk pada cetusan awal sang maestro. Klaim tersebut dipastikan keliru, manipulatif, dan bohong. JRO lahir murni dari rahim kepedulian bersepeda serta usaha mengangkat kembali hasil kebudayaan adiluhung oleh Ong Hari Wahyu.

Komitmen Pelestarian Budaya dan Komunitas
Kehadiran naskah klarifikasi yang dirilis oleh MUJI Tricycle ini berfungsi sebagai benteng ingatan kolektif. Jogja Republik Onthel bukan sekadar panggung seremonial, melainkan produk kebudayaan yang memiliki akar intelektual dan kesenimanan yang kuat dari Nitiprayan. Menghargai Ong Hari Wahyu sebagai penggagas utama berarti menghormati esensi sejati dari JRO itu sendiri: sebuah ruang publik yang setara, merdeka, dan penuh dengan nilai-nilai luhur kebudayaan Nusantara.

Naskah berita di atas telah disetujui untuk masuk ke dalam dokumentasi Bank Naskah Resmi MUJI Tricycle guna menjaga kelurusan sejarah.






AJI BUKA CAKRAWALA PENNY FARTHING PERTAMA DI JOGJA

AJI BUKA CAKRAWALA PENNY FARTHING PERTAMA DI JOGJA

MENGUKIR JEJAK DI JALANAN JOGJA: BAGAIMANA LIK AJI SUYATNO MEMBUKA CAKRAWALA PENNY FARTHING
YOGYAKARTA – Ada momen unik dalam sejarah jalanan Kota Gudeg yang kini tertulis dalam ingatan para penikmat budaya dan sepeda. Sejarah itu dimulai dengan 'runtuhnya' detik-detik biasa yang kemudian menjelma menjadi warisan yang tak terlupakan. Melalui ketajaman fakta, kedalaman sejarah, dan kebenaran foto, kita menyusun kembali kepingan peristiwa yang kerap terlewat oleh laju zaman. Ini adalah kisah tentang Lik Aji Suyatno dan pengenalan "Roda Besar" Penny Farthing pertama di Yogyakarta 2018 silam.

Dalam dunia yang serba modern ini, sejarah seringkali terpinggirkan. Namun, bagi Lik Aji, sejarah adalah sesuatu yang harus dihidupkan, bukan sekadar dipajang. Momen penentu itu terjadi pada rentang tahun 2018, ketika sebuah paket tak biasa tiba di rumahnya. Sebuah Penny Farthing, sepeda ikonik dengan satu roda depan raksasa dan satu roda belakang mungil, telah 'bertandang'. Sepeda itu dikirim oleh seorang pembuat sepeda 'bigwheel' visioner asal Semarang bernama Daronjin. Saat itu, tak ada satupun di Jogja yang mencoba, apalagi memiliki, sepeda jenis ini.

Aji, dengan pakaian uniknya yang memadukan sentuhan tradisional dan retro, memutuskan untuk melintas di Jalan Malioboro. Seperti yang kita lihat dalam image diatas, ia menunggangi sepedanya dengan penuh percaya diri, seolah menjadi bagian dari artefak hidup di tengah keramaian. Setiap mata memandang, setiap detik menjadi saksi terbukanya cakrawala baru di Jogja. Semangat Aji untuk 'merekam jejak' dan 'mengabadikan' momen tersebut, membuat dia menjadi sangat dikenali di kalangan masyarakat Yogyakarta. Dedikasinya bukan sekadar gaya, melainkan sebuah pernyataan untuk merawat ingatan melalui hobi yang unik.

Kehadiran Lik Aji dan Penny Farthing-nya tak berhenti sebagai sensasi jalanan belaka. Semangatnya menyebar, menciptakan 'kebudayaan baru' yang terbentuk di Yogyakarta. Aji tidak hanya menunggangi, tetapi juga 'menyuarakan' Penny Farthing di berbagai daerah. Ia menjadi salah satu orang yang memiliki peran sentral dalam mendirikan Komunitas Sepeda Penny Farthing Indonesia. Berkat upaya kolektif ini, jenis sepeda Penny akhirnya tumbuh subur dan diwacanakan di berbagai belahan nusantara.

Puncak dari pergerakan ini adalah ketika Penny Farthing secara resmi dikukuhkan oleh Fahmi Saimima, dengan pengakuan kelas internasional. Hal ini tak lepas dari inspirasi yang disebarkan oleh Lik Aji dan rekan-rekannya. Keberhasilan ini adalah bukti bahwa 'fakta dalam berita, sejarah dalam lensa' adalah benar adanya. Melalui foto jepretan: Sri Darmasto diatas (2019), kita bukan sekadar melihat sepeda besar, melainkan menyaksikan kelahiran sebuah komunitas dan perayaan budaya.

Fakta Akhir: Selepas dari IVCA Bali (International Veteran Cycle Association), komitmen Lik Aji tidak pernah surut. Ia terus mengendarai Penny-nya, dan semangat itu bahkan menular kepada anaknya, yang kini turut serta ber-Penny. Melalui keluarga Aji, sejarah roda besar ini terus berputar, merekam jejak waktu yang baru di setiap kayuhannya.

Suasana Pabrik (1950)

Suasana Pabrik (1950)

Pekerja di dalam pabrik perakitan roda tiga.

×